"After all.. I'm just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.."

Saturday, August 14, 2010

Kapan ?

belakangan ini, pertanyaan temen-temen gue jadi gak jauh-jauh dari seputar kehidupan asmara gue. Salah satunya pertanyaan temen lama gue si Laras. Tiap dia telepon gue, pertanyaan dia gak jauh dari ini :

'Siapa pacarnya sekarang Tariiiiiii?' dengan nada mendayu. Dan jawaban gue selalu sama 7 bulan belakangan ini,
'Ngga ada Ras, single nih. Hehe'
Dan tiap di jawab gitu, dia akan ngamuk-ngamuk dengan nada mendayu dan minta gue untuk cepet-cepet cari pacar. Katanya buat cewek, itu adalah masalah yang amat sangat krusial. Ngalah-ngalahin isu redenominasi mata uang Indonesia. Peh, dasar cewek *lah lu apa doooong yiii?*.

Well, si Laras ini tipe cewek-cewek idaman laki-laki; cantik dengan kulit hitam manis, berhidung mancung, bermata besar, bibir penuh, rambut panjang terawat, pintar, gaul dan pastinya tinggi badannya standar cewek normal. Jadi, buat dia dan mungkin jutaan populasi cewek lainnya di dunia ini, punya pacar adalah hal yang amat sangat penting, itu menentukan posisi mereka di kehidupan sehari-hari. Menunjukkan bahwa mereka itu 'laku' and worthed.

Pertanyaan selanjutnya yang sukses bikin gue bete banget adalah, 'Jadi, KAPAN deh kamu punya pacar? 7 bulan jomblo itu kan lamaaaaaa bangeeeetttttttt. Apasih yang kamu cari Tar?'
pertanyaan ini membuat gue terlihat jadi cewek pemilih yang terlalu lama menyeleksi cowok sampai membuat gue seakan-akan jadi Tante-tante di middle 30 yang lagi kelimpungan gak dapet jodoh. Suck.

Padahal gue asik-asik aja single. Padahal gue gak terpaksa single. Padahal single itu pilihan, bukan paksaan. Dan padahal, gue single gini karena gue baru aja patah hati dan sekarang masih skeptis sama cowok.

Terkadang, punya banyak pengalaman membuat lo malas untuk mempunyai pengalaman baru tentang suatu hal. Capek aja gitu kalau harus ngerasain hal-hal gak enak, yang memakan waktu recovery terlalu lama. Baru-baru ini gue suka banget sama satu cowok. Sebut dia AN. AN ini membuat gue amat sangat nyaman, dengan sikap dia yang dewasa, pintar, bijak, dan ngemong. Gue udah berharap banyak, sampai sanggup untuk LDR dan mau serius sama dia. Tapi apa kenyataannya? Di harap-harap bakalan ada pernyataan sebelum gue berangkat ke Jogja, yang ada dia malah ngungkapin semua perasaannya lewat SMS dan bilang klo dia gak bisa LDR. Sial, padahal gue udah niat banget sama dia.

Dengan keyakinan tingkat tinggi gue bisa bikin dia yakin, gue telepon aja deh dia. Kita ngobrol lama banget, ngebahas perasaan masing-masing. Gue berusaha meyakinkan dia klo gue gak akan bikin dia kecewa seperti mantan sebelumnya, dan meyakinkan dia klo LDR itu emang gak mudah, tapi bukan berarti gak mungkin. Tapi dia keukeuh untuk gak LDR, dan malah berusaha menghilangkan perasaan terlalu jauhnya itu. rawwr, dasar cowok lemah!

Hasilnya? gue skeptis aja loh sama cowok. Kasian gitu gue liat temen-temen gue yang lagi deket sama cowok, berharap banyak sama cowok itu, tapi pada akhirnya, BOOM! cowok itu mundur teratur atau ternyata cowok itu cuma nganggep kita tempat curhatnya soal cewek lain yang lagi di taksirnya. Damn. Dimanakah cowok-cowok gentle yang biasanya di tulis-tulis di novel-novel teenlit jaman sekarang? Nyumput di bawah selimutnya kah?

Pengalaman yang baru-baru ini terjadi membuat gue jadi gak menaruh harapan apa-apa sama cowok-cowok yang lagi deket sama gue. Buat gue semua cowok sekarang jadi sama aja gitu. Jadi temen aja lebih baik. Kita gak berharap apa-apa dan kita gak kehilangan apa-apa. Win-win solution kan? :3

Jadi, klo bulan depan Laras nelpon gue lagi, dan nanya kapan gue punya pacar, jawaban gue akan menjadi amat sangat bijak,
'I'll get the right person, at the right moment, but not now :)'

No comments:

Post a Comment