"What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet. " - William Shakesphere
Itu adalah ungkapan dari William Shakesphere (1616) di salah satu cerita romannya yang terkenal, yaitu Rome Juliet. Dialog yang di ucapkan oleh Romeo ke Juliet ini benar-benar romantis, mengungkapkan betapa besar cinta Romeo ke Juliet tanpa memikirkan hal-hal yang lain, termasuk nama keluargany yaitu Capulet yang membuat perselisihan di antara keluarga mereka berdua. Namun, menurut orang tuaku, nama adalah hal yang penting yang harus di pikirkan masak-masak karena itu akan mencerminkan seperti apa anak mereka kelak dan merupakan cerminan doa mereka untuk anak mereka.
Orang tuaku tidak harus menunggu terlalu lama untuk memilikiku. Pada tanggal 21 Juni 1991 mereka menikah, dan tidak lama dari situ Mama mengandungku. Di mulailah sembilan bulan penuh perjuangan membesarkan aku di dalam perutnya sambil Mama tetap bekerja. Harap-harap cemas mereka menungguku lahir dari kandungan dengan keadaaan sehat, tanpa kurang suatu apa pun. Dan akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu itupun datang.
Tanggal 10 Juni 1992 malam, kira-kira jam 20.00, Mama merasakan air ketubannya pecah dan segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat. Itu adalah malam sebelum hari raya Idul Adha. Untungnya rumah sakit tetap buka dan masih ada yang berjaga. Suster hanya bisa menenangkan Mama yang mengerang kesakitan, sementara Papa juga hanya bisa menguatkan Mama. Papa bilang saat itu memang bukan kali pertama ia melihat istrinya melahirkan, namun tetap saja jantungnya berdegup kencang. Karena proses melahirkan merupakan proses yang sebenarnya berbahaya. Tidak hanya nyawa si bayi yang terancam, namun juga nyawa ibunya. Saat dokter datang, itu sudah jam 23.00 mungkin lebih. Mama akhirnya melahirkan aku saat pergantian hari, dengan normal dan Alhamdulillah sehat walafiat.
Papa memberikan nama Mentari kepadaku, si bayi kecil mungil dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kg. Nama itu sendiri berarti banyak. Nama itu di dapatnya dari nama pemeran utama anak-anak di serial tv di TVRI jaman dulu, mungkin tahun 1991-1992. Di serial tv itu, Mentari adalah anak dari Dewi Yul, dan anak itu sangat pintar dan menyenangkan. Papa ingin aku menjadi seperti itu. Mentari juga pusat tata surya, jadi Papa ingin aku bisa menarik perhatian orang-orang dengan bakat-bakatku dan membuat orang-orang yang aku sayangi bangga akan hal itu. Dia juga berharap aku bisa menerangi dan menaungi orang-orang di sekelilingku, sama seperti Mentari yang selalu menyinari dunia ini, bahkan saat malam tiba.
Tadinya, akan ada nama Siti di depan nama Mentari. Jadi, namaku harusnya adalah Siti Mentari. Namun Mama menolaknya. Mama takut nama itu akan terdengar kampungan saat aku besar nanti. Padahal Papa sudah senang sekali dengan nama Siti itu. Yah, dia ingin aku menjadi seperti Siti Khadijah dan Siti Aisyah dengan memberikan nama itu juga kepadaku. Agar aku menjadi seorang yang solehah dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Namun Mama lebih memilih memberikan nama Adhalia kepadaku. Toh jadinya sama saja, tetap ada unsur agamisnya, begitu kata Mama.
Sudah aku bilang kan, aku lahir tepat saat pergantian hari, dari tanggal sepuluh ke tanggal sebelas, tepatnya jam 00.56. Hari itu adalah hari kamis, dan itu adalah hari raya Idul Adha. Aku selalu merasa bangga dengan hal ini. Orang lain mungkin bangga akan kelahirannya saat tahun baru, atau mungkin saat Natal, atau hari raya lain yang menurut tanggalan Masehi selalu jatuh tepat tanggal itu setiap tahunnya. Namun aku lahir di hari raya umat muslim, yang selalu berbeda tanggalnya setiap tahunnya, karena tidak mengikuti tanggalan tahun Masehi melainkan Hijriah. Jadi, hari kelahiranku yang bertepatan dengan hari raya Idul Adha benar-benar kebetulan yang langka. Mungkin bukan hanya aku yang lahir di tanggal itu, namun tetap saja aku merasa berbeda dan bangga akan perbedaan itu. Mama juga, maka dari itu dia memberikan nama Adhalia kepadaku. Itu mengingatkan bahwa aku lahir di hari raya Idul Adha pada tahun 1992, dan itu juga yang menyebabkan setiap tahunnya aku merayakan dua kali ulang tahun. Yang satu setiap tanggal 11 Juni, dan yang satu lagi saat Idul Adha datang. Mama juga berharap, nama ini akan membuatku selalu mengingat Sang Maha Pencipta, dan selalu menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim dan menjauhi serta tidak melakukan apa yang sudah di larang oleh-Nya.
Begitulah sejarah namaku yang aku tangkap dari jawaban orang tuaku saat aku tanyai. Mentari Adhalia berarti surya di pagi Idul Adha. Walaupun aku tidak lahir saat pagi hari atau saat Mentari mulai terbit pada hari itu, aku tetap di namai seperti itu agar aku selalu menjadi surya di keluargaku, menerangi orang-orang di sekelilingku, menjadi pusat dari apapun yang akan aku lakukan, dan Insya Allah menjadi solehah yang menjunjung tinggi akidah dan nilai-nilai Islam.
No comments:
Post a Comment