"After all.. I'm just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.."

Wednesday, July 21, 2010

Thinking of You

'Comparisons are easily done, once you've had a taste of perfection..'

Aku melihat bayanganku sendiri di cermin. Lalu bayangan dirinya. Wajah tampan itu menghipnotisku. Well, sempat menghipnotisku walaupun rasa itu sekarang mulai menghilang perlahan.. Mataku menyusuri lekuk wajahnya; matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya.. 'Betapa beruntungnya perempuan yang memiliki lelaki setampan dia..' ucap seorang perempuan sambil melirik secara terang-terangan di mall saat aku melewatinya bersama dengan suamiku ini. Aku melengos. Sudah tidak ada lagi rasa cemburu berkecamuk di pikiranku. Aku tau, laki-laki yang aku gandeng ini tidak akan berpaling dariku. Kalau cowok seperti ini saja sudah tampan sekali, apa yang dia katakan saat melihat dirimu ya Ren? Pikirku dalam hati sambil terkikik kecil lalu menyesali pikiran selintas itu. Aku pererat genggaman tanganku dengan Adit.
***
'Like an apple hanging from a tree, I picked the ripest one I still got the seed'

'Kita gak akan bisa sama-sama gini. Aku yakin kamu bisa dapet yang terbaik, dan itu bukan aku. Aku bener-bener gak bisa sama kamu Nis..' Reno melepaskan tanganku dari lengannya perlahan. Aku hanya bisa terdiam, memandang ke rerumputan di taman sepi itu. Sebenarnya ramai, tapi buatku yang sedang di ujung tanduk hubunganku, tempat seramai apapun benar-benar terasa sepi.
'Kenapa? Aku kurang apa? Apa lagi yang buat kamu gak bisa sama aku lagi Ren?' tanyaku, dengan suara tercekat. Hari ini Reno baru bersedia menemuiku setelah 2 minggu lebih menghindar. Dia melirikku, memastikan apakah aku menangis atau hanya terisak, menahan tangis. Lalu dia menghela nafas panjang.
'Intinya, kita gak bisa lagi berhubungan. Maaf klo penjelasan aku kurang berkenan di hati kamu, tapi udah lama aku mau kita temenan aja. Like we used to be..' jelasnya. Like we used to be? Klo pacaran sama kamu sehari dua hari mungkin kita bisa temenan lagi, tapi ini??? 3 tahun Ren! batinku, namun tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku menahan tangis, terisak. Lalu Reno bangun dari bangku taman itu,
'Aku pulang ya? Ngga enak ninggalin Aulia sendiran di rumah.. Kamu juga pulang ya? Mau hujan tuh..' dan dia langsung beranjak pergi. Aku tetap terdiam disana, berusaha mencerna kesalahan yang mungkin aku lakukan selama 3 tahun belakangan ini, dan tidak menemukan apa-apa untuk di benarkan. Kesempurnaankah yang membuat dia pergi?
***
'You said move on, where do I go? I guess second best is all I will know'

Menghilang, itu yang di lakukan Reno setelah memutuskan hubungan denganku. Dan aku, bukannya berusaha untuk mencarinya atau sekedar bertanya tentangnya, aku memilih untuk bertualang mencari penggantinya. Hey, I'm such a pretty girl, and I know how to use my charm towards guys. Yang ada di otakku adalah, masih banyak yang lebih baik daripada Reno. Pikiran yang akhirnya aku sangat sesali..
***
'Cause when I'm with him, I am thinking of you. Thinking of you. What you would do if you were the one who was spending the night? Oh I wish that I was looking into your eyes'

'Mikirin apaan sih sayang?' Adit bertanya dengan nada khawatir ke arahku. Aku tersentak, keluar dari lamunanku. Ternyata dia terbangun. Mungkin karena dia mencari-cari tubuhku untuk di peluk barusan dan tidak menemukannya. Aku menggeleng,'Nope, ga mikirin apa-apa, ngelamun aja. Hehe..' Dia memandangku sambil tersenyum. Manis, dengan lesung pipi di pipinya. Reno gak ada lesung pipi, tapi setiap dia senyum senyuman itu selalu berhasil membuat aku yang kesal tersenyum juga. Bayangan Reno masih datang, bahkan setelah bertahun-tahun aku tidak melihatnya lagi. Adit memelukku dari belakang. Harum tubuhnya, hangat pelukannya, kecupannya di pipiku, semua itu berbeda dari apa yang di lakukan Reno, tapi bayangan Adit terlihat seperti Reno sekarang, dari cermin di seberang kamar ini. Apa yang sebenarnya aku pikirkan?
***
'You're like an Indian summer n the middle of winter, like a hard candy with a surprise center'

Reno itu pembalap, hobinya nge-track sama teman-temannya setiap malam Sabtu. Cuek namun rapih, cerewet tapi dingin, itulah Reno. Dengan fisik cowok manis, Reno benar-benar tidak terlihat seperti seorang pembalap yang sanggup bawa motor sportsbike yang besar-besar itu. Di balik sikapnya yang dingin, Reno adalah orang yang amat sangat care dengan orang-orang terdekatnya, dan mahasiswa yang cerdas. Aku sangat menyayanginya, dan aku yakin Reno pun demikian. He's one of a kind, and I do love him more than I love anyone before.
***

'How do I get better once I've had the best? You said there's tons of fish in the water, so the waters I will test'

Adit adalah anak teman orangtuaku. Seharusnya, ia menjadi penerus perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang kontruksi dan pembangunan. Namun, dia sendiri memiliki EO dan beberapa restoran di kota besar. Aku mengenal Adit setahun setelah aku lulus S1. Dia lelaki yang tampan, di tunjang dengan tubuhnya yang atletis juga gaya berpakaian yang necis. Tipe eksekutif muda yang sangat sadar bahwa dunia tempat dia berkecimpung amat sangat menghargai penampilan yang rapih ketimbang berantakan. Yang banyak orang tidak tahu, Adit adalah seorang pianis yang handal. Dia biasa bermain piano sesaat sebelum tidur dan saat bangun pagi. Hanya butuh waktu setahun lebih untuk membuat dia amat sangat jatuh cinta kepadaku dan memutuskan untuk menikahiku. Hanya wanita bodoh yang menyia-nyiakan lelaki seperti Adit, dan aku tidak bodoh.
***

'He kissed my lips, I taste your mouth. He pulled me in, I was disgusted with myself.Cause when I'm with him, I am thinking of you. Thinking of you. What you would do if you were the one who was spending the night? Oh I wish that I was looking into your eyes'

Tapi kenangan akan Reno tidak hilang, seberkas pun tidak penah aku bisa melupakan bayangannya. Bahkan akhir-akhir ini, bayangan itu seperti menggantikan sosok Adit. Laki-laki yang menemaniku setiap hari itu mulai berubah perlahan-lahan menjadi Reno! Malam ini, tubuh Adit yang memelukku lagi-lagi menjadi Reno. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi di otakku, atau pikiranku, atau perasaanku. Yang jelas, ini membuatku sedikit terganggu. Aku harus melupakannya, tapi perasaanku tidak ingin sedikitpun melupakan Reno..
***

'You're the best and yes I do regret. How I could let myself let you go. Now the lesson's learned, I touched it I was burned, oh I think you should know'

Dan bahkan sebaik apapun Adit, masih Renolah yang aku pikirkan. Masih ada Reno di benakku, jauh di kedalaman hatiku masih ada Reno. Walaupun mungkin pikiranku menolak untuk mengingatnya lagi, tubuhku dengan reflek akan mengingat kembali betapa hangat pelukannya, manis kecupannya, lembut usapannya di wajahku, dan genggaman tangannya saat kami berdua. Bagaimana aku bisa mendapatkan yang terbaik sementara dialah yang terbaik untukku? Bagaimana mungkin saat itu aku melepaskan tangan itu, tidak mengejarnya lagi, dan berpaling?
***

'Cause when I'm with him, I am thinking of you. Thinking of you. What you would do if you were the one who was spending the night? Oh I wish that I was looking into your eyes. Won't you walk through and bust in the door and take me away? No more mistakes, cause in your eyes I'd like to stay... '

Dan malam ini, saat dia memeluk tubuhku lagi dan lagi, dan saat kamu datang menggantikan bayangan di cermin itu, pertanyaan besar menghantui pikiranku. Apakah sudah saatnya aku berhenti berpura-pura dan mencari dirimu, berharap kamu bisa memelukku lagi dan kita hidup bahagia berdua seperti yang sebelumnya pernah kita rencanakan bersama?
END
***



*NB : cerpen yang mellow, inspired by Katy Perry's song, Thinking of You :) kalimat-kalimat yang italic itu liriknya, dari awal sampai akhir :) hehe. Mulai sekarang, isi blog ini akan banyak di isi cerpen-cerpen inspired by songs that I heard recently :) Maaf yaaa klo agak ga nyambung atau gimana, ini hasil perspektif gue sama lagu ini :p Enjoy :)

No comments:

Post a Comment